BUSANA MENURUT NERACA PANGADERENG (ADAT ISTIADAT)
By. To Sessungriu

Khazanah Wari Pangadereng (Tatanan Adat Istiadat) Bugis antara lain menyebutnya “sampu”, yakni istilah yang kurang lebih bermakna : Busana. Tatkala seorang Bugis memanggil “sampu” kepada kerabat atau sahabatnya, maka itu bermaknakan suatu pandangan bahwa kerabat dan sahabat itu adalah “busana” yang memperindah dan menutupi aurat, aib dan kehormatannya. Hal yang kurang lebih sama ketika seorang Bugis mengistilahkan “sappo” kepada putera puteri paman atau bibinya. Bahwa arti harfiah “sappo” adalah pagar, maka sepupu bagi seorang Bugis adalah “pagar” yang melindungi kehormatan dirinya.

12645039_485211404985226_8098298989369817458_n

Selain berfungsi sebagai pelindung (tabir) aurat, busana berfungsi pula sebagai penghormatan atau pemuliaan terhadap orang lain. Betapa risihnya tatkala berhadapan dengan seseorang yang dimuliakan, lalu kita tidak mengenakan pakaian yang “pantas”. Dengan demikian, Adat Istiadat pada jaman terdahulu memberlakukan norma untuk memperbaiki pasangan sarung (padEcEngi pangerre’ lipa’E) jika hendak lewat didepan Saoraja (Istana). Kemudian tatkala berhadapan dengan seorang Raja atau bangsawan tinggi maupun yang dipandang setaraf, diberlakukan adab khusus bagi setiap pemakaian busana. Sebagai contoh, antara lain : memiringkan penutup kepala (songkok atau passapu) ketika berada dalam 1 ruangan dengan Raja, karena hanya Raja-lah yang “boleh” menegakkan penutup kepalanya. Selain itu, gagang badik (kawali) tidak boleh diperlihatkan, maka dibungkus dengan secarik kain. Lalu Keris (tappi/gajang) diikat dengan “tali bennang passio sumange’” sebagai pertanda kesetiaan yang seakan-akan berkata : “usio’i sumange’na tappiku riolona DatuE, pura dE’ni nadorakai Pappuengengku” (kuikat semangat kerisku, sehingga takkan mungkin lagi mendurhakai Pertuananku). Maka mengenakan busana terbaik selengkap-lengkapnya, termasuk lencana (bintang) dan keris dihadapan seorang junjungan, tak lain bermakna sebagai penghargaan setinggi-tingginya terhadap junjungan itu.

Suatu catatan kecil tentang ikhwal mengenakan Keris (tappi/gajang) dihadapan seorang Raja besar, bahwa tatkala seorang “Arung Lili” (Raja Bawahan) menghadap Raja-nya dengan tidak mengenakan keris perlambangnya, maka itu dapat berarti 2 hal : 1). Menghadapkan diri selaku pribadi, bukan sebagai Raja Bawahan, 2). Pernyataan sikap Memerdekakan Negerinya dihadapan Raja Besar tersebut. Maka yang sesungguhnya, tatkala seseorang menghadap Raja dengan mengenakan kerisnya, maka itu bermakna ia menghadap dan menyembah bersama dengan segenap kehormatannya. Olehnya itulah, maka sesungguhnya pemasangan gagang (pangulu) pada Keris Bugis, senantiasa tidak direkat dengan damar (lem) seperti halnya badik (kawali). Hal yang dimaksudkan agar gagang keris itu dapat diputar ke berbagai arah sesuai situasi dan kondisi. Tatkala berhadapan dengan Raja, gagang keris itu “dipasang” menghadap kedepan. Maka gagang keris yang bengkok menyerupai kepala burung laut (seagull) itu “seakan” turut membungkuk/tunduk bersama pemiliknya, menghadap dan menyembah Raja yang didepannya. Namun ketika seseorang berhadapan dengan personal setaraf atau bahkan dibawah stratanya, maka gagang keris itu diputar kesamping atau bahkan kearah sebaliknya, seakan kepala gagang itu menyelusup ke perut pemakainya. Bahkan bagi seorang Raja, biasanya mengenakan gagang keris yang berbeda, yakni “Pangulu Tau” (gagang berbentuk patung manusia) atau kulu-kulu (kepada burung yang tegak) agar dimaknakan “tidak tunduk” kepada orang didepannya. Namun pada masa ini, tidak sedikit yang memahaminya terbalik, padahal Keris (tappi/gajang) sesungguhnya tidak bermakna sebagai senjata, melainkan symbol bagi suatu kaum maupun person.

fungsi lain berbusana adalah tanda pengenal Identitas yang tercermin pada setiap elemen busana itu sendiri, baik bentuk, warna, corak maupun model pemasangan ketika mengenakannya. Ketika berhadapan dengan seorang Raja, adalah hal yang dipandang “amat tidak sopan” jika tidak mengenakan penutup kepala, meskipun dengan secarik kain. Adalah merupakan etiket dasar pula, ketika menghadiri suatu perhelatan Adat, jika seorang Raja mengenakan “busana adat”, maka segenap yang hadir harus mengenakan busana adat sesuai pranatanya (wari) masing-masing. Ketika berhadapan dengan Raja, maka setiap bawahannya haruslah memiringkan penutup kepalanya (passapu atau songkok), sesuai karakter identitasnya masing-masing.

Bahwa sesungguhnya identitas dihadapan Raja, adalah digolongkan pada 3 golongan, yaitu : 1. SEajing Arungna DatuE (kerabat Raja) dan Toaccana DatuE (cendekiawan-nya Raja). Golongan ini memiringkan songkok atau destarnya ke kanan. Khusus bagi destar, jumbai pengikatnya terpasang disebelah kanan, dan 2). Towaraninna DatuE (kaum Pemberani-nya Raja) atau Pakkannana DatuE (ksatria-nya Raja) atau Toddo’pulina DatuE (pahlawan-nya Raja). Kaum ini memiringkan songkok ke sebelah kiri dan pengikat destarnya terletak pada sebelah kiri. 3). Ata ribolangna DatuE (Abdi Setia Istana), termasuk Kamo’na ArungngE (lelaki yang terlahir dari kaum Ibu Susu ), memasang Songkok atau Destar (passapu) jatuh kebelakang. Pengikat destarnya diletakkan dibelakang pada bagian tengkuk (massio cekkong). Satu-satunya golongan yang “terbebas” dari ketiga etiket letak dan tata cara pemasangan penutup kepala ini adalah To Panrita (Ulama) yang terdiri dari Puang Kali (kadhi) dan Petta Passongko’E (Imam Khusus bagi Raja) serta Puang/Opu AnrEguru (Tuan Guru). Khususnya dalam Kedatuan Luwu, BandEra TelluE (Pejabat Tiga Panji) yang terdiri dari : Opu AnrEguru Anakarung, Opu AnrEguru Attoriolong dan Opu AnrEguru PampawaEpu yang termasuk dalam Dewan Adat 9 (Ade’ AsEra’E) juga tidak dikenakan kewajiban memiringkan penutup kepala ini.

Khusus bagi seorang Raja (Datu), senantiasa mengenakan penutup kepala dalam posisi tegak. Ada kalanya seorang seorang Raja Bugis mengenakan Sorban dan Passapu (destar). Namun pada pemasangan destarnya, simpul pengikat dan jumbainya (jombEna) diselipkan pada pinggir destarnya tersebut. Bahwa bermula setelah kedatangan Belanda di Sulawesi Selatan dalam Abad 17, para Raja dan Bangsawan di Sulawesi Selatan pada umumnya mulai mengenakan baju khusus. Bagi seorang Raja (Datu), mereka mengenakan jas tutup yang bermotif bunga ataupun garis-garis. Jas tutup ini dikenal sebagai “Baju Tallasa’”. Khusus bagi Kerajaan Wajo (Tana Wajo) pemberlakuan Baju Tallasa’ hanya boleh dikenakan oleh 1 orang, yaitu : Arung Matoa Wajo sendiri. Olehnya itu, pada awal Abad 20 seorang Pejabat Adat Tertinggi dalam jajaran Arung EnnengngE (Petta EnnengngE) dikenakan sangsi “idosa” (didenda) ketika mengenakan Baju Tallasa’ dalam suatu perhelatan Adat. Adapun halnya di Kerajaan Luwu, justru Datu/PajungngE tidak mengenakan Baju Tallasa’, melainkan jas tutup warna hitam ataupun putih. Adapun yang mengenakan Baju Tallasa’ di Luwu adalah pejabat adat tertinggi selain Datu/PajungngE dalam jajaran Ade’ Seppulo Dua (Dewan Adat 12) dan Ade’ AsEra (Dewan Adat 9). Namun secara umum di Sulawesi Selatan, yang mengenakan Baju Tallasa’ adalah seorang Bangsawan Tertinggi yang dikenal sebagai Maddara Bocco’.

Adab berbusana dalam khazanah Wari Pangadereng (Tatanan Adat Istiadat) Bugis sesungguhnya amat luas dan tidak cukup diuraikan dalam tulisan kecil ini. Masih banyak tata cara yang belum dikemukakan, antara lain seluk beluk busana perempuan yang meliputi model sanggul (simpolong tettong dan simpolong pElE), mabbaju tokko/bodo, makkikking lipa’ dan lainnya. Demikian pula dengan jenis-jenis sarung dan maknanya yang biasa dikenakan kaum lelaki, misalnya tapong, lipa’ kaci, lipa’ garrusu dan lainnya. Hal yang tak kalah pentingnya adalah wari (tatanan) mengenakan perbagai pernik, antara lain : kawari, sima’ tayya’, passampo edda’(mastura), gEno sibatu, potto, ciccing siu-siu dan lainnya. Insya Allah pada lain waktu dan kesempatan akan dihaturkan sebagai bahan berbagi pandangan dalam majelis media social yang baik ini.

Pada tanengki’ ade’ natuo, pallimpo bunga putE, tomasallE lolang.

Wallahualam Bissawwab.