By. La Oddang To Sessungriu

“Gangka narapini pitu pariyamang ittana // Pitussussung toni lapi’na risEsE ancajingna // NasiyanrEbalEna tauwwE // TomawatangngEmani paullE gau’ // Lengnye’ni accaE ri awatangngE // Puttai asugirengngE ri appaullEngngE // Tellengni abbatirengngE ri amaElorengngE —“ (Lontara Akkarungeng Luwu ; hal. 11)

(Hingga sampai tujuh masa lamanya // Tujuh lapis generasi telah dilahirkan // Masyarakat saling memakan bagai ikan-ikan // Orang kuatlah yang berkuasa // Musnahlah kepintaran oleh kekuatan // Habislah kekayaan oleh kemampuan // Tenggelamlah nazab asal muasal oleh kemauan …)

………………………………………………………………….

Bahwa Tana Luwu pada suatu masa, terjadi kondisi chaos yang disebut sebagai “SianrE BalE” (saling memakan bagai ikan-ikan). Sebagaimana halnya yang terjadi pada komunitas yang kacau balau akibat ketiadaan pemimpin dan aturan. Kemanakah pemimpin dan aturan itu ?. Lontara Attoriolong Luwu menguraikan sebagai berikut :

“ YinaE powadaadaEngngi attoriyolongngE ri Luwu // Rimunrinnaritu attoriyolong mEnrE’E ri Galigo // Nayi wettu rigilinna sinapatiE // nawEkkaduwatona tinrelle’ wija-wija arung manurungngE polE ri ruwallangi // Nenniya tune’patola sangiyangngE yi tompo’E polE riyawa uriliung ri pErEtiwi // – Aga naonrona siyarE’ pariyamanna tomaEgaE tekkEarung // DE akkatenninna // Masuwaritu tau rionroi makkacowE // Yi maka tirowangngi madEcEngngE // Apa’ cappu manengni wija manurungngE //Tune’ sangiyangngE ri patinrelle’ // Engka manonno ri Uriliung // Engka manai’ ri Ruwallangi’ // Sininna poasengngE Wija DEwata Toruwallangi “

(inilah yang menuturkan perihal leluhur di Luwu // Setelah leluhur yang tertera di Galigo // Ketika era telah dibalik // maka dua kali ditenggelamkan para keturunan bangsawan yang diturunkan dari khayangan ruwallangi // begitupula para bangsawan yang telah dimunculkan dari bawah uriliung di pertiwi // – maka tinggallah masyarakat banyak selama beberapa masa tanpa raja pertuanannya // tiada lagi pegangannya // maka langkalah orang yang dapat dijadikan panutan // yakni yang dapat menunjukkan kebaikan // sebab habislah turunan Sang Dewata yang telah diturunkan // begitu pula turunan Sang Dewata yang telah dibenamkan // Ada yang turun ke Uriliung // ada pula yang naik ke Khayangan Ruwallangi // Semuanya yang dipersebutkan turunan Dewata itu yakni para orang khayangan ).

Bahwa dengan mengabaikan sejenak perihal sejauh mana rasio dan logika menerima keberadaan para Dewata yang menghuni Benua Atas (Ruwallangi) dan Benua Bawah (Uriliung). Namun sesungguhnya yang dikatakan “musnah” kala itu adalah Nilai-Nilai Luhur Adat Istiadat. Keluhuran tatanan (strata) yang diistilahkan sebagai “wari pangadereng” telah naik ke atas (menguap) dan turun ke bawah (tumpah diserap tanah), atau lebih jelasnya : telah sirna atau hilang. Bagaimana suatu nilai keluhuran yang telah mengakar pada suatu Negeri sebesar Luwu pada jaman itu bisa hilang ?.

Luwu dan kebesarannya dalam sejarah senantiasa seiring dengan dinamikanya. Kadang terpuruk dalam suatu era namun kembali jaya pada era berikutnya. Namun sejarah Luwu menggoreskan perihal keterpurukan Tana Luwu dalam suatu ketika bukannya disebabkan agresi Kerajaan lain. Bahkan pada masa penjajahan Belanda dan Jepang yang sekian lama itu tidak mampu meredupkan Kerajaan asal muasal Sulawesi ini. Redupnya bintang kejayaan negeri para Tomanurung dan To Tompo ini senantiasa disebabkan perpecahan dari dalam. Cahayanya pudar tatkala tidak mengenali secara baik esensi kemuliaannya. Sejarah Luwu pada masa PapoataE To SEngereng dan Sanggaria menyatakan demikian. Tatkala rakyat Luwu memahami citra mereka sebagai Penakluk Pemberani, maka Wanua Cenrana, Lalengtonro’, WagE, Siengkang, Tampangeng dan TEmpE terlepas dari peta wilayah Kerajaan Luwu. Sementara sebelumnya, Wanua Lili’ Larompong dan Siwa Mattuttungsalo telah “dipertukarkan” dengan Kerajaan Sidenreng. Namun tak lama kemudian, Sidenreng mampu memerdekakan diri dari Luwu, sementara Larompong dan Siwa telah terlanjur diserahkan pada Wajo.

Sejarah dalam Lontara mencatatkan pula pada era-era setelah kedua Sribaginda PajungngE tersebut. Tana Luwu kembali pada esensinya sebagai mata air “pappEdEcEng” (keluhuran). Citranya sebagai negeri yang subur dan masyarakatnya yang ramah serta rendah hati kembali bersinar. Maka dikenallah negeri ini sebagai “Wanua mappatuo, naEwai alEna” (negeri yang menghidupi serta mandiri). Hingga kemudian pada masa TopapoataE We TenrirawE, Kerajaan Luwu adalah satu-satunya Kerajaan yang tidak memiliki struktur panglima kemiliteran dalam system pemerintahannya. Sementara Kerajaan Bone memiliki Panglima PakkanynyarengngE, Kerajaan Wajo memiliki Panglima Pilla’, Cakkuridi dan PatolaE. Bahkan Gowa telah memiliki KaraEng Tukajannangan (Panglima Pasukan Khusus). Namun jua, tatkala ketiga Penyiar Islam menapakkan kaki di Kerajaan Gowa, Sultan Awwalul Islam KaraEng Matoayya berujar kepada mereka ; “Pergilah terlebih dahulu menghadap ke Datu Luwu. Beliau dan negerinya adalah yang tertua dan termulia diantara kami. Jika beliau memeluk agama Islam, maka kamipun akan mengikutinya”. Kerajaan Gowa yang jaya beserta super power militernya pada masa itu justru memuliakan Kerajaan Luwu yang tidak memiliki struktur ketentaraan.

Sesungguhnya yang dipersebutkan sebagai “wija manurungngE” (turunan Dewata Yang Diturunkan) tiada lain adalah “wari pangadereng” (tatanan adat istiadat). Aturan bermasyarakat berstrata beserta dengan system tata caranya inilah yang merupakan esensi dari sumber kewibawaan suatu pemerintahan. Seorang Raja beserta dengan perangkatnya senantiasa tertib dan menjiwai tata cara (adat istiadat) yang sistematis dalam menjalankan peranannya sebagai suatu kesatuan yang kompak. Maka tiada lain yang “diperkenalkan” oleh TopapoataE Batara Guru sebagai founder Kerajaan Luwu ditengah-tengah berbagai suku pada jamannya, yakni : Tata Cara, Aturan dan Tatanan. Hingga para anak-anak suku yang mendiami Tana Luwu terkesan dengan “tata tertib” itu sehingga dengan suka rela menggabungkan diri demi untuk mendapatkan curahan peradaban. Mereka tunduk dan kagum pada tatanan itu sehingga mensifatkan pembawanya sebagai Sang Dewata sendiri (Aturan Langit).

Kemudian esensi dari “tune’ sangiyang tompo’E” (turunan murni Dewata Yang Dimunculkan) tiada lain adalah makna sosialisasi dari Raja beserta perangkatnya. Bahwa walaupun mereka senantiasa berada dalam lingkup “Wari Pangadereng” yang memancarkan kewibawaan penguasa, namun mereka senantiasa berbelas kasih dan bermurah hati kepada segenap kawulanya. Maka nilai inilah yang membiaskan rasa cinta masyarakat kepada pertuanannya. Sesungguhnya kekuatan inilah yang menjadikan Tana Luwu sebagai satu-satunya bekas kerajaan yang lestari Struktur Dewan Adatnya di Sulawesi Selatan hingga kini, yaitu : Cinta dan belas kasih masyarakatnya yang tertuang dalam tata pangadereng.

Kedua azas keluhuran inilah yang sesungguhnya kemudian dimaknai pula sebagai “DuaE Temmassarang” (Dua Serangkai Yang Tak Terpisahkan) sebagaimana dilambangkan pada “Bessi PakkaE”, regalia TopapoataE Datu Luwu. Bahwa karakter “manurung” (dari atas) dan “tompo” (dari bawah) yang diaktualisasikan pada suatu motto : “Massolompawo, Mangelle’ WaE Pasang”, yakni : “Kebijakan dari atas senantiasa dipertemukan dengan aspirasi dari bawah”. Ibarat air yang tercurah dari atas sebagai air hujan yang bertemu dengan luapan air dari bawah yang menggenang merata sebagai air pasang.

Wallahualambissawwab..