Oleh : Syamsul Hilal

Makkadudu adalah sebuah perilaku sosial masyarakat tana Luwu sebagai ungkapan bela sungkawa atas kematian seseorang dalam suatu kampung yang diselenggarakan biasanya di hari ketiga bertepatan dengan hari mattambung(mpung), dengan membawakan bahan kebutuhan pokok ke keluarga duka. Biasanya bahan kebutuhan pokok yang dibawa adalah beras, meski akhir2 ini juga sudah mulai bervariasi seperti terigu, telur, dsb.

sh

Beras yang dibawa biasanya dimasukkan dalam panci atau mangkok besar dengan ukuran 2-3 liter, kemudian dibungkus dengan kain, kemudian ditenteng dibawa ke rumah duka. Biasanya sepulang dari rumah duka anak-anak kecil di rumah sudah menunggu isi kembalian yang dimasukkan dalam panci atau mangkok besar tersebut. Begitu gembiranya hati para anak anak ini setelah membuka bungkusan kain terus membuka penutup panci dan didapatinya kue agar-agar, beppa Abba, Dadara, Bolu peca, dsb dalam bungkusan tersebut.

Beras yang terkumpul di rumah duka, menjadi penyambung hidup bahan kebutuhan pokok yang dimiliki. Tapi bagi mereka yang merasa sumbangan bahan kebutuhan pokok itu berlebih, maka dibagilah ke tetangga tetangga terdekat atau kepada mereka yang selama ini berjibaku dalam urusan dapur saat acara atau kepada orang-orang yang lebih membutuhkan.

Sementara Makkurru sumanga’ pada dasarnya memiliki definisi , proses dan perilaku yang hampir sama dengan Makkadudu, yang membedakannya hanyalah momentum. Kalau makkadudu itu dilakasanakan pada acara kematian, maka Makkurru Sumanga’ itu dilakukan pada saat Syukuran kelahiran bayi (Aqiqah) atau acara penyambutan orang yang baru datang dari rantau atau acara menempati rumah baru, dsb yang bersifat syukuran.

Tradisi seperti ini masih berlaku dimasyarakat dan menjadi jalan silaturrahmi, menyambungkan komunikasi yang terputus, sebagai perekat hubungan semua lapisan masyarakat baik yang kaya maupun yang miskin, baik para pejabat atau bangsawan maupun rakyat jelata. Pada acara ini bisa disaksikan bagaimana seorang miskin bisa memberi kepada yang kaya, dan sebaliknya yang kaya membalasnya dengan pemberian pula. Pada acara ini bisa disaksikan bagaimana seorang bangsawan atau pejabat diberi oleh rakyatnya dan sebaliknya pejabat maupun bangsawan membalasnya dengan pemberian pula.

Begitulah sebenarnya penggambaran kohesi sosial masyarakat Luwu, yang mengedepankan kesetaraan melebihi apa yang dicita-citakan oleh masyarakat Komunis tentang kesetaraan. Meskipun demikian mengedepankan kesetaraan, namun Pranata sosial atau Wari’ Pangadareng tetap dijunjung tinggi. Yaitu mereka mengerti tentang posisi dirinya sebagai rakyat, sebagai bangsawan, sebagai pejabat, sebagai pemimpin, sebagai orang kaya yg penyantun, sebagai orang miskin yang punya harga diri, sebagai ulama, dsb.

Wallahu Alam bishshowab

31 Juli 2016